ARTIKEL LEPAS
oleh Swara Kampus pada 30 Maret 2012 pukul 17:20 ·
MEMANG TIDAK MUDAH MEMAHAMI DEMO
"Mama, aku pamit ke kampus dulu ya... Nanti sehabis kelar kuliah mau ikut demo sama teman-teman. Kalau aku ditembak aparat semoga Mama bisa mengikhlaskan kepergianku..." Tentu dialog seperti ini hampir dipastikan tidak ada dalam realitanya (atau, adakah mahasiswa yang berani seperti itu?). Orangtua mana yang penuh keikhlasan melepaskan anaknya tercinta untuk pergi selamanya?
Apa yang ada dalam benak mahasiswa pendemo sehingga mau berpanas-panasan meneriakkan sesuatu yang mungkin saja belum ia pahami? Belum lagi jika demo berujung pada bentrok dengan aparat keamanan yang bartampang sangar dan bermodalkan senjata lengkap (paling tidak tongkat pentungan, perisai diri dan helm). Ditambah bila kampus dimana ia kuliah berpikir kolot dengan memberi sanksi akademik (gugur makul, disidang, menyurati ortu, atau di drop out). Dan terakhir mendapat cemoohan dari teman, kerabat dan warga yang tidak suka mereka berdemo. Ternyata banyak sekali resiko bagi mahasiswa pendemo dan mereka tetap menghadapinya.
Memang tidak mudah memahami mahasiswa pendemo. Di tengah sebagian besar mahasiswa lainnya asyik masyuk dengan segala fasilitas di cafe (kongkow-kongkow), ada pula yang cuek bebek main ke mall sambil menatap sinis teman-temannya yang kepanasan. Banyak resiko dan gak ada asyiknya, lantas mengapa mereka mau? "Mereka jelas dibayar...," ada lagi yang berbisik, "Paling cuma ikut-ikutan...," yang berada dalam mobil mewah bapaknya tidak urung berkomentar, "Biar diliput media kali, kan jadi terkenal...?" Mereka yang berkomentar hanya menduga karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa selain (mungkin) kepentingan mereka menjadi terganggu akibat demo.
Memang tidak ada yang pernah tahu selain mahasiswa pendemo itu sendiri. Banyak motivasi atau yang menjadi latar mengapa mereka berdemo. Seperti seorang mahasiswi UIN yang sempat saya tanya, "Awalnya hanya rasa solidaritas saja... Namun saat terlibat demo, seperti ada nuansa yang berbeda," katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut nuansa berbedanya itu. Atau seorang pemuda yang ternyata masih pelajar yang kebutulan (akunya) sedang libur, "Saya gregeten aja melihat pemerintah yang seolah-olah dengan seenaknya mempermainkan hidup rakyat..." menurutnya lagi ia sudah mengikuti banyak demo sejak kelas 10. Artinya, banyak kebijakan pemerintah yang mengecewakan dan kenaikan harga BBM hanya salah satunya saja. Ya, orang Jawa mengatakan "muntab"... sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi amarahnya.
Dan mungkin masih banyak lagi alasan mengapa mereka harus berdemo, di tengah banyaknya arus yang mengatakan bahwa sebagai pelajar dan mahasiswa harus menunjukkan keintelektualitasan mereka, beri solusinya dan, "Pikir dong sebelum demo, jangan sampai merugikan orang banyak dengan menimbulkan kemacetan juga kerusakan di mana-mana!!" Teriak lantang mahasiswa yang tidak berani 'berpanas-panasan' tadi (mahasiswa jenis ini justru lebih betah mengantri berjam-jam untuk mendapat tiket nonton film atau konser atau ikut idol-idolan). Jangankan mahasiswa, prof sekelas Kwik Kian Gie saja sudah tidak didengarkan dan solusinya dibuang ke tong sampah, maka muncullah komentar menggelitik, "Sebenarnya siapa sih yang jadi presiden dan menteri ESDM, kok masih minta mahasiswa untuk mencari solusinya?"
Sudahlah, mengapa harus berdebat? Pro kontra sudah terjadi sejak zaman pra sejarah antar kelompok bahkan antar orang (di keluarga juga bisa terjadi antar anggota keluarga cekcok beda pendapat). Di zaman perjuangan juga ada pro kontra antara tetap dalam naungan pemerintahan kerajaan Belanda atau merdeka, ada aksi TRITURA (3 tuntutan rakyat, 12 Januari 1966), ada juga peristiwa Malari (malapetaka lima belas januari 1974), dan terakhir Gerakan REFORMASI (20-21 Mei 1998). Siapa ya tokoh-tokoh utama dalam catatan sejarah tersebut? Yup, mereka kaum muda, pelajar dan mahasiswa dan tokoh gerakan pemuda lainnya. Mengapa? Mungkin sudah menjadi hukum alam saja, di mana tokoh konservatif (biasanya kaum tua dan mapan) akan berhadapan dengan tokoh progresif (diwakili kaum muda yang anti kemapanan dan menuntut adanya perubahan).
Dalam dunia ini emang gak ada yang abadi. Bak roda pedati yang berputar dari bawah ke atas dan yang di atas akan turun ke bawah. Jadi, apa yang kita perdebatkan? Let it be.... Biarkan saja. Dulu, era regim Suharto, tidak akan ada yang pernah berpikir sedikit pun bahwa presiden akan mundur karena desakan mahasiswa. Seharusnya sejarah ini bisa menjadi pengalaman bagi regim-regim berikutnya bahwa pemerintahan yang 'patos' (baca: bebal), maka harus bersiap-siap berhadapan dengan rakyat dan mahasiswa. Tapi jalanan menjadi macet? Mohon maaf sebelumnya. Ah, anggap saja sedang ada rombongan pejabat negara yang sedang lewat, kan pasti macet juga dan kita gak protes. Anarkhis? Apa yang menyebabkan munculnya anarkhi? Anarkhi itu artinya mencari jalan pembebasan, mengapa? Karena ada yang membelenggu... yakni sikap-sikap represif (dulu disebut totaliter). Mengapa jika aparat yang memukuli, menendang dan menembak mahasiswa dikatakan berhak namun saat mahasiswa melempar aparat dikatakan kriminal dan anarkhi? Itulah kekuatan REPRESIF. Sebuah kekuatan yang selalu menghalang-halangi setiap kritikan-kritikan (unjuk rasa) dengan alasan stabilitas. Ingat, stabilitas yang berlebih justru akan menimbulkan instabilitas seperti zamannya ORBA.
Bila kamu tidak suka orang demo, maka diam saja, tidak perlu menghasut (nanti justru kamu yang dicap sebagai provokator). Seorang ibu yang bijak akan selalu berdoa demi keselamatan anaknya dan bukannya memaki-maki. "Engkau lebih memilih mengepalkan tangan di bawah terik matahari untuk menentang segala ketidakadilan, daripada berselimutkan (bersembunyi) materi dan kemewahan... Kau hadapi panasnya biji peluru itu... demi pertiwi."
Malioboro, 30/3/2012
Awib L.
"Mama, aku pamit ke kampus dulu ya... Nanti sehabis kelar kuliah mau ikut demo sama teman-teman. Kalau aku ditembak aparat semoga Mama bisa mengikhlaskan kepergianku..." Tentu dialog seperti ini hampir dipastikan tidak ada dalam realitanya (atau, adakah mahasiswa yang berani seperti itu?). Orangtua mana yang penuh keikhlasan melepaskan anaknya tercinta untuk pergi selamanya?
Apa yang ada dalam benak mahasiswa pendemo sehingga mau berpanas-panasan meneriakkan sesuatu yang mungkin saja belum ia pahami? Belum lagi jika demo berujung pada bentrok dengan aparat keamanan yang bartampang sangar dan bermodalkan senjata lengkap (paling tidak tongkat pentungan, perisai diri dan helm). Ditambah bila kampus dimana ia kuliah berpikir kolot dengan memberi sanksi akademik (gugur makul, disidang, menyurati ortu, atau di drop out). Dan terakhir mendapat cemoohan dari teman, kerabat dan warga yang tidak suka mereka berdemo. Ternyata banyak sekali resiko bagi mahasiswa pendemo dan mereka tetap menghadapinya.
Memang tidak mudah memahami mahasiswa pendemo. Di tengah sebagian besar mahasiswa lainnya asyik masyuk dengan segala fasilitas di cafe (kongkow-kongkow), ada pula yang cuek bebek main ke mall sambil menatap sinis teman-temannya yang kepanasan. Banyak resiko dan gak ada asyiknya, lantas mengapa mereka mau? "Mereka jelas dibayar...," ada lagi yang berbisik, "Paling cuma ikut-ikutan...," yang berada dalam mobil mewah bapaknya tidak urung berkomentar, "Biar diliput media kali, kan jadi terkenal...?" Mereka yang berkomentar hanya menduga karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa selain (mungkin) kepentingan mereka menjadi terganggu akibat demo.
Memang tidak ada yang pernah tahu selain mahasiswa pendemo itu sendiri. Banyak motivasi atau yang menjadi latar mengapa mereka berdemo. Seperti seorang mahasiswi UIN yang sempat saya tanya, "Awalnya hanya rasa solidaritas saja... Namun saat terlibat demo, seperti ada nuansa yang berbeda," katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut nuansa berbedanya itu. Atau seorang pemuda yang ternyata masih pelajar yang kebutulan (akunya) sedang libur, "Saya gregeten aja melihat pemerintah yang seolah-olah dengan seenaknya mempermainkan hidup rakyat..." menurutnya lagi ia sudah mengikuti banyak demo sejak kelas 10. Artinya, banyak kebijakan pemerintah yang mengecewakan dan kenaikan harga BBM hanya salah satunya saja. Ya, orang Jawa mengatakan "muntab"... sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi amarahnya.
Dan mungkin masih banyak lagi alasan mengapa mereka harus berdemo, di tengah banyaknya arus yang mengatakan bahwa sebagai pelajar dan mahasiswa harus menunjukkan keintelektualitasan mereka, beri solusinya dan, "Pikir dong sebelum demo, jangan sampai merugikan orang banyak dengan menimbulkan kemacetan juga kerusakan di mana-mana!!" Teriak lantang mahasiswa yang tidak berani 'berpanas-panasan' tadi (mahasiswa jenis ini justru lebih betah mengantri berjam-jam untuk mendapat tiket nonton film atau konser atau ikut idol-idolan). Jangankan mahasiswa, prof sekelas Kwik Kian Gie saja sudah tidak didengarkan dan solusinya dibuang ke tong sampah, maka muncullah komentar menggelitik, "Sebenarnya siapa sih yang jadi presiden dan menteri ESDM, kok masih minta mahasiswa untuk mencari solusinya?"
Sudahlah, mengapa harus berdebat? Pro kontra sudah terjadi sejak zaman pra sejarah antar kelompok bahkan antar orang (di keluarga juga bisa terjadi antar anggota keluarga cekcok beda pendapat). Di zaman perjuangan juga ada pro kontra antara tetap dalam naungan pemerintahan kerajaan Belanda atau merdeka, ada aksi TRITURA (3 tuntutan rakyat, 12 Januari 1966), ada juga peristiwa Malari (malapetaka lima belas januari 1974), dan terakhir Gerakan REFORMASI (20-21 Mei 1998). Siapa ya tokoh-tokoh utama dalam catatan sejarah tersebut? Yup, mereka kaum muda, pelajar dan mahasiswa dan tokoh gerakan pemuda lainnya. Mengapa? Mungkin sudah menjadi hukum alam saja, di mana tokoh konservatif (biasanya kaum tua dan mapan) akan berhadapan dengan tokoh progresif (diwakili kaum muda yang anti kemapanan dan menuntut adanya perubahan).
Dalam dunia ini emang gak ada yang abadi. Bak roda pedati yang berputar dari bawah ke atas dan yang di atas akan turun ke bawah. Jadi, apa yang kita perdebatkan? Let it be.... Biarkan saja. Dulu, era regim Suharto, tidak akan ada yang pernah berpikir sedikit pun bahwa presiden akan mundur karena desakan mahasiswa. Seharusnya sejarah ini bisa menjadi pengalaman bagi regim-regim berikutnya bahwa pemerintahan yang 'patos' (baca: bebal), maka harus bersiap-siap berhadapan dengan rakyat dan mahasiswa. Tapi jalanan menjadi macet? Mohon maaf sebelumnya. Ah, anggap saja sedang ada rombongan pejabat negara yang sedang lewat, kan pasti macet juga dan kita gak protes. Anarkhis? Apa yang menyebabkan munculnya anarkhi? Anarkhi itu artinya mencari jalan pembebasan, mengapa? Karena ada yang membelenggu... yakni sikap-sikap represif (dulu disebut totaliter). Mengapa jika aparat yang memukuli, menendang dan menembak mahasiswa dikatakan berhak namun saat mahasiswa melempar aparat dikatakan kriminal dan anarkhi? Itulah kekuatan REPRESIF. Sebuah kekuatan yang selalu menghalang-halangi setiap kritikan-kritikan (unjuk rasa) dengan alasan stabilitas. Ingat, stabilitas yang berlebih justru akan menimbulkan instabilitas seperti zamannya ORBA.
Bila kamu tidak suka orang demo, maka diam saja, tidak perlu menghasut (nanti justru kamu yang dicap sebagai provokator). Seorang ibu yang bijak akan selalu berdoa demi keselamatan anaknya dan bukannya memaki-maki. "Engkau lebih memilih mengepalkan tangan di bawah terik matahari untuk menentang segala ketidakadilan, daripada berselimutkan (bersembunyi) materi dan kemewahan... Kau hadapi panasnya biji peluru itu... demi pertiwi."
Malioboro, 30/3/2012
Awib L.





